SELAMAT DATANG di Bintang Maya ...

Sebuah blog sederhana sebagai media menulis untuk publik.
Tempat berbagi cerita, pengetahuan, dan informasi. Semoga bermanfaat ...

Minggu, 24 Juni 2012

Fonologi : Bunyi Bahasa dan Tata Bunyi

Tugas Mata Kuliah Fonologi 



Oleh : Mey Indriyani Inkiriwang
Mahasiswa Diksatrasia FKIP Unswagati Cirebon





BUNYI BAHASA DAN TATA BUNYI


1.  PENGERTIAN BUNYI BAHASA
Getaran udara yang yang masuk ke telinga berupa bunyi atau suara, yang dapat terjadi karena dua benda atau lebih yang bergeseran atau berbenturan. Bunyi bahasa dibuat oleh manusia untuk mengungkapkan sesuatu, dan dapat terwujud dalam nyanyian atau dalam tuturan.

1.1  Bunyi yang Dihasilkan oleh Alat Ucap Manusia
Dalam pembentukan bunyi bahasa ada tiga faktor yang terlibat, yaitu sumber tenaga (pernapasan), alat ucap yang menimbulkan getaran, dan rongga pengubah getaran, dimana bunyi bahasa yang dihasilkan berbeda-beda. Bunyi bahasa yang arus udaranya keluar melalui mulut disebut bunyi oral (contohnya [p], [g], [f]), bunyi bahasa yang arus udaranya keluar dari hidung disebut bunyi sengau / nasal (contohnya [m], [n], [ñ], [ŋ]). Sedangkan bunyi bahasa yang arus udaranya sebagian keluar melalui mulut dan sebagian keluar dari hidung disebut bunyi yang disengaukan / dinasalisasi.
Bunyi bersuara terjadi apabila kedua pita suara berganti-ganti merapat dan merenggang dalam membentuk bunyi bahasa, bunyi bahasa yang dihasilkan akan terasa “berat”. Bunyi tak bersuara terjadi apabila pita suara direnggangkan sehingga udara tidak tersekat oleh pita suara, bunyi bahasa yang dihasikan akan terasa “ringan”. Perbedaan antara keduanya dapat dirasakan jika menutup kedua lubang telinga rapat-rapat. Disamping itu, pita suara dapat juga dirapatkan sehingga udara tersekat, bunyi yang dihasilkan disebut bunyi hambat glotal [?].
Macam bunyi bahasa yang kita hasilkan juga dipengaruhi oleh ada tidaknya hambatan dalam prosos pembuatannya.

1.2  Vokal dan Konsonan
            Berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara, bunyi bahasa dibedakan menjadi dua, yaitu vokal dan konsonan. Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor, yaitu tinggi rendahnya posisi lidah (tinggi, sedang, rendah), bagian lidah yang dinaikkan (depan, tengah, belakang), dan bentuk bibir pada pembentukkan vokal (vokal bundar atau bukan).
Konsonan adalah bunyi bahasa yang arus udaranya mengalami rintangan. Pada pelafalan konsonan ada tiga faktor yang terlibat, yaitu keadaan pita suara, penyentuhan alat ucap, dan cara alat ucap bersentuhan. Alat ucap yang bergerak untuk membentuk bunyi bahasa dinamakan artikulator : bibr bawah, gigi bawah, dan lidah. Sedangkan daerah yang disentuh atau didekati oleh artikulator dinamakan daerah artikulasi : bibir atas, gigi atas, gusi atas, langi-langit (keras-lunak), dan anak tekak.
Bunyi konsonan dapat diperikan berdasarkan artikulator dan daerah artikulasinya. Penamaan bunyi dilakukan dengan menyebutkan artikulator yang bekerja : labio- (bibir bawah), apiko- (ujung lidah), lamino- (daun lidah), dorso- (belakang lidah), dan radiko- (akar lidah), diikuti oleh daerah artikulasinya : -labial (bibir atas), -dental (gigi atas), -alveolar (gusi), -palatal (langit-langit keras), -velar (langit-langit lunak), -uvular (anak tekak).
Cara artikulator menyentuh atau mendekati daerah artikulasi dan bagaimana udara keluar dari mulut dinamakan cara artikulasi.
Bila udara dari paru-paru dihambat secara total, maka bunyi yang dihasilkan dinamakan bunyi hambat (contohnya bunyi [p] dan [b]). Apabila arus udara melewati saluran yang sempit, maka akan terdengar bunyi desis, disebut bunyi frikatif (contohnya bunyi [f]). Apabila ujung lidah bersentuhan dengan gusi dan udara keluar melalui samping lidah, disebut bunyi lateral (contohnya bunyi [l]). Sedangkan apabila ujung lidah menyentuh tempat yang sama berulang-ulang, disebut bunyi getar (contohnya bunyi [r]).

1.3  Diftong
            Diftong adalah vokal yang berubah kualitasnya pada saat pengucapan. Diftong biasa dilambangkan oleh dua huruf vokal yang tidak dapat dipisahkan. Bunyi [aw] pada kata harimau merupakan diftong, grafem <au> pada suku kata –mau tidak dapat dipisahkan menjadi ma-u. Diftong berbeda dengan deretan vokal, karena dalam deretan vokal dua vokal dapat dipisahkan dalam dua suku kata yang berbeda, contohnya main → ma-in.
           
1.4  Gugus Konsonan
            Gugus konsonan adalah deretan dua konsonan atau lebih yang tergolong dalam satu suku kata yang sama. Jadi, belum tentu deretan dua konsonan atau lebih yang berdampingan itu merupakan gugus konsonan. Contoh gugus konsonan, bunyi [pr] pada kata praktik → prak-tik.


1.5  Fonem dan Grafem
            Satuan bahasa terkecil berupa bunyi atau aspek bunyi bahasa yang membedakan bentuk dan makna kata dinamakan fonem. Contohnya bunyi [p] dan [b] → pada kata pagi dan bagi. Berdasarkan konvensi, fonem ditulis diantara tanda garis miring : /pagi/, /bagi/. Jika dua bunyi bahasa secara fonetik mirip, tetapi tidak membedakan kata, maka kedua bunyi itu disebut alofon dari fonem yang sama (variasi bunyi).
            Fonem berbeda dengan grafem. Fonem merujuk ke bunyi bahasa, sedangkan grafem merujuk ke huruf atau gabungan huruf sebagai satuan pelambangan fonem dalam ejaan. Contohnya, kata pagi terdiri dari fonem /p/, /a/, /g/, /i/ dan grafem <p>, <a>, <g>, <i>. Kata hangus terdiri dari fonem /h/, /a/, /ŋ/, /u/, /s/ dan grafem <h>, <a>, <ng>, <u>, <s>.
Meskipun grafem melambangkan fonem dalam sistem ejaan, ini tidak berarti bahwa satu grafem hanya bisa melambangkan satu fonem atau sebaliknya. Contohnya grafem <e>, melambangkan fonem /e/ pada <bela> dan /ə/ pada <reda>.

1.6  Fonem Segmental dan Suprasegmental
            Fonem segmental adalah fonem-fonem yang berupa lambang bunyi. Sedangkan fonem suprasegmental adalah aspek tambahan bunyi yang berupa tekanan, panjang bunyi, dan nada (ciri suprasegmental), yang dapat membedakan kata dalam suatu bahasa. Fonem suprasegmental, dalam tulisan, biasanya dinyatakan dengan lambang diakritik (tanda baca) yang diletakan di atas unsur segmental (lambang bunyi). Naik turunnya nada dapat membedakan kata dalam suatu bahasa, maka bahasa itu disebut bahasa tona.

1.7  Suku Kata
            Suku kata adalah bagian kata yang diucapkan dalam satu hembusan napas dan umumnya terdiri atas beberapa fonem. Pada kata datang, diucapkan dengan dua hembusan napas: da- , -tang ( 2 suku kata ).
            Suku kata dalam bahasa Indonesia selalu memiliki vokal yang menjadi inti suku kata, yang dapat didahului dan diikuti oleh satu konsonan atau lebih. Suku kata juga dibedakan menjadi suku buka, yaitu suku kata yang berakhir dengan vokal (K)V contohnya dia → di-a dan suku tutup, yaitu suku kata yang berakhir dengan konsonan (K)VK contohnya : ambil → am-bil.

2.  BUNYI BAHASA DAN TATA BUNYI BAHASA INDONESIA
            Sebagai akibat masyarakat yang mempunyai bahasa daerah yang beragam, maka bahasa Indonesia mengenal diasistem, yaitu adanya dua sistem atau lebih dalam tata bunyi karena tata bunyi sebagian bahasa daerah di Indonesia cukup besar perbedaannya dengan bahasa Indonesia. Gejala diasistem itu terutama terjadi karena beberapa fonem dalam bahasa Indonesia merupakan diafonem dalam bahasa daerah, atau sebaliknya.

2.1  Vokal dalam Bahasa Indonesia
            Dalam bahasa Indonesia ada enam fonem vokal : /a/, /i/, /e/, /ə/, /u/, dan /o/. Dengan adanya gejala diasistem yang dapat menampung semua varian fonetis sebagai pewujud fonem yang sama di dalam posisi yang sama, maka tata bunyi vokal bahasa Indonesia akan tampak memiliki vokal /a/, /i/, /e/, /u/, dan /o/.

2.1.1  Alofon Vokal
            Tiap vokal mempunyai alofon atau variasi. Umumnya setiap fonem mengikuti pola : lidah yang berada pada posisi tertentu bergerak ke atas atau kebawah sehingga posisinya hampir berhimpitan dengan posisi untuk vokal yang ada di atas atau dibawahnya. Di bawah ini akan diuraikan alofon fonem berdasarkan sistem lafal ragam bahasa Indonesia yang biasa diajarkan disekolah-sekolah !
ü  Fonem /i/,  mempunyai dua alofon, yaitu [i] dan [I]. Fonem /i/ dilafalkan [i] jika terdapat pada suku kata buka, atau suku kata tutup yang berakhir dengan fonem /m/, /n/, atau /ŋ/ dan juga mendapat tekanan yang lebih keras daripada suku kata lain.
                  Contoh :
            Suku buka : /gi-gi/            [gigi]
            Suku tutup : /sim-pang/    [símpaŋ]
            Fonem /i/ dilafalkan /I/ jika terdapat pada suku tutup dan suku ini tidak mendapat tekanan yang lebih keras dari suku yang lain.
Contoh :
Suku buka : ban-ting        [bantIŋ]
Suku tutup : sik-sa           [síksa]
Jika tekanan kata berpindah pada /i/, /i/ yang semula dilafalkan [I] akan berubah menjadi [i]. Contoh : [kírIm] → [kiríman]
ü  Fonem /e/, mempunyai dua alofon, yaitu [e] dan [ε]. Fonem /e/ dilafalkan [e] jika terdapat pada suku kata buka, dan suku itu tidak diikuti oleh suku yang mengandung alofon [ε]. Jika suku yang mengikutinya mengandung [ε], /e/ pada suku kata buka itu juga menjadi [ε] jika terdapat pada suku kata tutup akhir.
Contoh :
            Suku buka : so-re    [sore]
Suku tutup : nenek   [nεnε?]
ü  Fonem /ə/, hanya mempunyai satu alofon, yaitu [ə]. Alofon ini terdapat pada suku kata buka dan suku kata tutup. Contoh : e-nam    [ənam].
ü  Fonem /u/, mempunyai dua alofon, yaitu [u] dan [U]. Fonem /u/ dilafalkan [u] jika terdapat pada suku kata buka, atau suku kata tutup yang berakhir dengan /m/, /n/, atau /ŋ/ dan suku ini mendapat tekanan yang keras.
Contoh :
            Suku buka : u-pah      [upah]
            Suku tutup : bung-su  [búŋsu]
Jika /u/ terdapat pada suku tutup dan tidak mendapat tekanan yang keras, fonem /u/ dilafalkan [U] (contoh : wa-rung    [wárUŋ]). Dan jika tekanan kata berpindah, /u/ yang semula dilafalkan [U] akan menjadi [u] (contoh : [símpul] → [kesimpúlan]).
ü  Fonem /a/, hanya mempunyai sati alofon, yaitu [a]. Contoh : a-kan    [akan].
ü  Fonem /o/, mempunyai dua alofon, yaitu [o] dan [○]. Fonem /o/ dilafalkan [o] jika terdapat pada suku kata buka dan suku itu tidak diikuti oleh suku lain yang mengandung alofon [○]. Fonem /o/ dilafalkan [○] jika terdapat pada suku kata tutup atau suku kata buka yang diikuti oleh suku kata yang mengandung [○].
Contoh :          Suku buka : to-ko   [toko]
                                    Suku tutup : ro-kok [r○k○?]


2.1.2  Diftong
            Dalam bahasa Indonesia terdapat 3 buah diftong, yaitu /ay/, /aw/, dan /oy/ yang masing-masing dapat dituliskan : ai, au, dan oi. Ketiga diftong tersebut bersifat fonemis, dimana kedua huruf vokal pada diftong melambangkan satu bunyi vokal yang tidak dapat dipisahkan. Contohnya kata harimau → /aw/  /harimaw/ → ha-ri-mau, termasuk diftong. Berbeda dengan kata mau → /au/  /mau/ → ma-u, termasuk deretan vokal biasa.
            Dengan masuknya bahasa asing maka muncul diftong /ey/ yang ditulis ei. Diftong ini sering bervariasi dengan /ay/ pada kata-kata tertentu.
Contohnya : /surfey/  survei  ~ /surfay/  survai.
            Pada umumnya, vokal dapat menjadi unsur pertama maupun unsur kedua deretan vokal. Meskipun demikian, tidak semua vokal dapat berderet dengan vokal lain. Misalnya, vokal /ə/ hanya dapat berderet dengan vokal lain melalui imbuhan. Vokal /e/ dan /o/ hanya dapat diikuti oleh vokal tertentu. Dan melalui kaidah fonotaktik, kaidah yang mengatur deretan fonem mana yang terdapat dalam satu bahasa dan mana yang tidak, kita dapat merasakan secara intuitif bentuk mana yang kelihatan seperti kata Indonesia, meskipun belum pernah melihat sebelumnya, dan bentuk mana yang tampaknya asing.

2.1.3  Cara Penulisan Vokal Bahasa Indonesia
ü  Huruf a ditulis untuk melambangkan fonem /a/ dengan alofon tunggalnya.
Contoh : /adik/ → <adik>
ü  Huruf e mewakili dua fonem, yaitu /e/ dan /ə/ beserta alofonnya.
Contoh : /sore/ → <sore>, /bəsar/ → <besar>
ü  Huruf i dan u dipakai untuk menuliskan fonem /i/ dan /u/ tanpa memperhitungkan alofonnya.
Contoh : /kita/ → <kita>, /ulama/ → <ulama>
ü  Huruf o dipakai untuk menuliskan fonem /o/ dengan alofonnya.
ü  Huruf ai, au, dan oi digunakan untuk diftong /ay/, /aw/, dan /oy/.
Contoh : /pantay/ → <pantai>, /kalaw/ → <kalau>, /koboy/ → <koboi>

2.2  Konsonan dalam Bahasa Indonesia
            Sesuai dengan artikulasinya, konsonan dalam bahasa Indonesia dikategorikan berdasarkan tiga faktor, yaitu keadaan pita suara (konsonan bersuara dan tidak bersuara), daerah artikulasi (konsonan bersifat labial, labiodental, alveolar, palatal, velar, atau glotal), dan cara artikulasinya (konsonan hambat, frikatif, nasal, getar, atau lateral). Adapula konsonan yang berwujud semivokal.




                Daerah Artikulasi


Cara Artikulasi


Bilabial
Labiodental



Dental / Alveolar



Palatal



Velar




Glotal






Hambat

Tak bersuara
Bersuara

p
d


t
d


k
g



Afrikatif

Tak bersuara
Bersuara





c
j




Frikatif

Tak bersuara
Bersuara


f

s
z

š

x

h

Nasal

Bersuara
m

n
ñ
ŋ


Getar

Bersuara



r





Lateral

Bersuara


l





Semivokal

Bersuara
w


y





2.2.1  Alofon Konsonan
ü  Fonem /p/ mempunyai dua alofon, yaitu [p] (alofon lepas) dan [p>] (alofon tak lepas).
Contoh :   [pintu]         pintu
                            [tatap>]        tatap
ü  Fonem /b/ mempunyai satu alofon, yaitu [b]. Contoh :  [baru]   baru
ü  Fonem /t/ mempunyai dua alofon, yaitu [t] (alofon lepas) dan [t>] (alofon tak lepas).
Contoh :  [timpa]         timpa
                            [lompat>]     lompat
ü  Fonem /d/ mempunyai satu alofon, yaitu [d] yang posisinya selalu diawal suku kata. Pada akhir kata <d> dilafalkan [t>] kecuali jika diikuti oleh akhiran yang dimulai dengan huruf vokal. Contoh :   [duta]            duta
                                       [tekat>]         tekad
                                       [murtat>] → [kəmurtadan] → kemurtadan
ü  Fonem /k/ mempunyai tiga alofon, yaitu [k] (alofon lepas), [k>] (alofon tak lepas), dan [?] alofon hambat glotal tak bersuara.
Contoh :  [kaki]                   kaki
                           [pak>sa]                paksa
                           [tidak>,tida?]        tidak
ü  Fonem /g/ mempunyai satu alofon, yaitu [g] yang posisinya selalu diawal suku kata.
 Pada akhir kata <g> dilafalkan [k>] kecuali jika diikuti oleh akhiran yang dimulai dengan huruf vokal. Contoh :   [gula]          gula
                                       [bedUk>]      bedug
                                       [ajək>] → [kə?ajəgan] →keajegan
ü  Fonem /f/ mempunyai satu alofon, yaitu [f] yang posisinya selalu diawal atau diakhir suku kata. Contoh :  [arif]                arif
ü  Fonem /s/ mempunyai satu alofon, yaitu [s] yang posisinya selalu diawal atau diakhir suku kata. Contoh :  [sama]  sama
ü  Fonem /z/ mempunyai satu alofon, yaitu [z] yang posisinya diawal suku kata.
Contoh :  [izIn]            izin
ü  Fonem /š/ mempunyai satu alofon, yaitu [š] yang posisinya diawal suku kata.
Contoh :  [šukur]         syukur
ü  Fonem /x/ mempunyai satu alofon, yaitu [f] yang posisinya terdapat diawal atau diakhir suku kata. Contoh :  [xas]                 khas
ü  Fonem /h/ mempunyai dua alofon, yaitu [h] (bersuara) dan [ħ] (tak bersuara). Namun pada kata tertentu /h/ kadang dihilangkan.
Contoh :  [hari]            hari
                            [tahu, taħu]  tahu
                            [lihat, liat]    lihat
ü  Fonem /c/ mempunyai satu alofon, yaitu [c] yang posisinya diawal suku kata.
Contoh :  [cari]            cari
ü  Fonem /j/ mempunyai satu alofon, yaitu [j] yang posisinya diawal suku kata.
Contoh :  [juga]           juga
ü  Fonem /m/, /n/, /ŋ/ mempunyai satu alofon, yaitu [m], [n], dan [ŋ] yang posisinya selalu diawal atau diakhir suku kata.
Contoh :  [makan]       makan
                            [nakal]         nakal
                            [paŋkal]       pangkal
ü  Fonem /ñ/ mempunyai satu alofon, yaitu [ñ] yang hanya terdapat diawal suku kata.
Contoh :  [ñañian]       nyanyian
ü  Fonem /r/ mempunyai satu alofon, yaitu [r] yang posisinya selalu diawal atau diakhir suku kata. Contoh :  [raja, Raja]       raja
ü  Fonem /l/ mempunyai satu alofon, yaitu [l] yang posisinya selalu diawal atau diakhir suku kata. Dan konsonan rangkap ll pada Allah dilafalkan sebagai [ł].
Contoh :  [lama]          lama
ü  Fonem /w/ mempunyai satu alofon, yaitu [w] yang posisinya diawal suku kata, tapi pada akhir suku kata [w] berfungsi sebagai bagian diftong.
Contoh :  [wak>tu]      waktu
                           [kalaw]         kalau   
ü  Fonem /y/ mempunyai satu alofon, yaitu [y] yang posisinya diawal suku kata, tapi pada akhir suku kata [y] berfungsi sebagai bagian diftong.
Contoh :  [yakIn]         yakin
                            [ramay]        ramai

2.2.2  Struktur Suku Kata, Kata, dan Gugus Konsonan
            Kata dalam bahasa Indonesia terdiri atas satu suku kata atau lebih. Betapa pun panjangnya suatu kata, wujud suku yang membentuknya mempunyai struktur dan kaidah pembentukan yang sederhana. Berikut ini ada sebelas macam suku kata beserta contohnya !

1.       V                             a-mal, su-a-tu, tu-a
2.       VK                          ar-ti, ber-il-mu, ka-il
3.       KV                          pa-sar, war-ga
4.       KVK                      pak-sa, ke-per-lu-an, pe-san
5.       KVKK                   teks-til, mo-dern
6.       KVKKK                korps
7.       KKV                      slo-gan, dra-ma
8.       KKVK                   trak-tor, kon-trak
9.       KKKV                   stra-te-gi, stra-ta
10.    KKKVK                struk-tur
11.    KKVKK                kom-pleks

Bahasa Indonesia tidak memiliki gugus konsonan rangkap pada akhir suku. Karena itu, bahasa asing yang memiliki ciri tersebut dan dipakai dalam bahasa Indonesia sering disesuaikan dengan kata umum bahasa Indonesia, dengan menyisipkan vokal dalam ucapannya atau menghilangkan salah satu konsonannya.
Jika dua konsonan terdapat dalam satu suku kata yang sama, konsonan yang pertama terbatas pada konsonan hambat /p, b, t, d, k, g/ dan konsonan frikatif /f, s/, sedangkan konsonan kedua terbatas pada konsonan /r/ atau /l, w, s, m, n, f, t, k/.
Jika tiga konsonan berderet dalam satu suku kata, konsonan yang pertama selalu /s/, yang kedua /t/, /p/, atau /k/ dan yang ketiga /r/ atau /l/. Seperti halnya dengan sistem vokal yang mempunyai diftong dan deretan vokal biasa, sistem konsonan juga memiliki deretan konsonan biasa.

2.2.3  Pemenggalan Kata
            Pemenggalan kata berhubungan dengan kata sebagai satuan tulisan, sedangkan penyukuan kata bertalian dengan kata sebagai satuan bunyi bahasa. Pemenggalan tidak selalu berpedoman pada lafal kata. Faktor lain dalam pemenggalan kata yang juga sangat penting adalah kesatuan pernafasan pada kata tersebut yang juga mencakup urutan vokal dan imbuhan (awalan-akhiran).
            Kita juga harus menghindari pemenggalan pada akhir kata yang hanya terdiri atas satu huruf saja karena akan menimbulkan kesan janggal (contohnya kata meliputi dapat dipenggal menjadi me-liputi, bukan meliput-i).
Contoh :  abdimu       → ab-dimu, abdi-mu
               berarti          → ber-arti, berar-ti
               kebanyakan  → ke-banyakan, kebanyak-an

2.3  Ciri Suprasegmental dalam Bahasa Indonesia
            Suatu fonem biasanya terwujud bersama-sama dengan ciri suprasegmental, seperti tekanan, panjang bunyi, dan nada. Ada pula ciri suprasegmental yang lain, yaitu intonasi dan ritme.
Suatu kata dapat diberi penonjolan pada satu suku katanya dengan cara memperpanjang pengucapannya, meninggikan nada, atau memperbesar tenaga atau intensitas. Gejala ini dinamakan tekanan.
Dalam bahasa-bahasa tertentu ciri suprasegmental ini dapat mempengaruhi arti kata dengan cara memindahkan letaknya.berbeda dengan bahasa Indonesia, letak tekanan bahasa Indonesia teratur, jatuh pada suku kata sebelum yang terakhir, dan apabila suku kedua dari akhir mengandung bunyi /ə/, tekanan akan ditempatkan pada suku akhir.
Dalam kalimat tidak semua kata mendapat tekanan yang sama, hanya yang dianggap penting saja. Tekanan seperti itu disebut aksen. Aksen tidak hanya ditentukan oleh tekanan, tetapi juga oleh faktor jangka dan nada. Sebuah suku kata lebih menonjol (mendapat aksen) apabila dilafalkan dengan waktu yang lebih panjang dan dengan nada yang relatif lebih tinggi dari suku kata yang lain.
Dalam tuturan ada jeda yang menandakan batas antar kata atau kalimat. Ada pula intonasi  yang   lebih mengacu pada  naik  turunnya  nada dalam pelafalan kalimat, dan   ritme yang mengacu pada pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat.    

2.3.1  Peranan Ciri Suprasegmental
            Dalam bahasa tulisan, tanda baca mempunyai peranan yang sangat penting karena dapat membedakan arti dari suatu klausa yang terdiri dari kata yang sama. Misalnya jika suatu klausa diikuti dengan tanda titik (.) maka akan menyatakan pernyataan, sedangkan jika klausa dengan kata yang sama diikuti dengan tanda tanya (?) maka akan menyatakan pertanyaan.
Contoh :  Dia dapat pergi.
                Dia dapat pergi ?
            Dalam bahasa lisan tidak ditemui tanda baca. Maka dari itu, cara pengucapan kata dan kalimat sangat penting. Intonasi menurun menyatakan pernyataan, dan intonasi naik menyatakan pertanyaan. Ada pula penggunaan aksen yang harus diperhatikan, karena makna dari kalimat tersebut akan mengandung informasi yang berbeda.
            Pada tataran kata, tekanan, jangka, dan nada dalam bahasa Indonesia tidak berperan sebagai pembeda makna. Namun, pelafalan kata yang menyimpang dalam hal tersebut akan terasa janggal.  

2.3.2  Intonasi dan Ritme
            Ritme adalah pola pemberian aksen pada kata dalam untaian tuturan (kalimat) yang dilakukan dengan selang waktu yang sama untuk beberapa bahasa dan dengan selang waktu yang berneda untuk beberapa bahasa yang lain. Dalam bahasa Inggris, mengikuti ritme yang berdasarkan jangka waktu. Sedangkan dalam bahasa Indonesia mengikuti ritme yang berdasarkan jumlah suku kata. Makin banyak suku kata, makin lama pula waktu pelafalannya.
            Intonasi adalah urutan pengubahan nada dalam untaian tuturan yang ada dalam suatu bahasa. Pola pengubahan nada itu membagi suatu tuturan (kaliamat) dalam satuan yang secara gramatikal bermakna. Dan tiap-tiap pola itu menyatakan informasi sintaksis tersendiri.
            Bagian kalimat tempat berlakunya suatu pola perubahan nada tertentu disebut kelompok tona. Pada setiap kelompok tona terdapat satu suku kata yang terdengar menonjol yang menyebabkan terjadinya perubahan nada, suku kata itulah yang mendapatkan aksen.
            Suku kata yang mendapat aksen dalam kelompok tona tidak dapat diramalkan karena sangat bergantung apa yang dianggap paling penting oleh pembicara. Pada umumnya sebutan tidak akan menerima aksen, aksen biasanya diberikan pada pokok pembicaraan (topik).
            Pola intonasi dapat juga mengalami topikalisasi, yaitu pengutamaan bagian kalimat yang dikontraskan dengan keterangannya.

1 komentar:

  1. Sangat bermanfaat sobat admin. Salam semangat belajar dan membaca sepanjang masa ya? Hehe... :)

    BalasHapus